Emang ada rumah tanpa dinding? Kan bangunan tanpa dinding itu nggak akan berdiri kokoh dan kuat. Ini masa ada rumah tanpa dinding, fiksi kali itu. Mungkin begitu pertama kali yang dipikirkan oleh para pembaca. Selayaknya bangunan yang tidak memiliki dinding mungkin tetap bisa berdiri tapi hanya sementara waktu, perlahan akan rapuh ketika diterpa hujan, angin, atau guncangan kecil. Tapi rumah ini berbeda, dia tetap kokoh dan kuat berdiri walau diterpa badai sekalipun, kuncinya sangat sederhana untuk kita terapkan di rumah yang akan kita bangun nanti. Apa saja kuncinya? rasa peduli, rasa memiliki, serta keinginan untuk terus menjaga rumah tersebut. Penulis akan mengambil salah satu acara yang ada di rumah tanpa dinding ini, yakni MAKERTA.
Tidak semua pertemuan hadir hanya untuk saling mengenal nama. Ada pertemuan yang tanpa disadari menjadi awal dari cerita panjang tentang kebersamaan, perjuangan, dan tumbuh bersama. MAKERTA menjadi salah satu momen yang mungkin itu akan selalu diingat dan dikenang. Di tempat di mana langkah-langkah yang awalnya asing perlahan berubah menjadi ikatan yang hangat, penuh tawa, canda, pelajaran, dan kenangan yang akan selalu menemukan jalannya untuk dikenang kembali. Bukan sekedar kegiatan malam keakraban pada umumnya tapi disinilah tempat bertemu para pemimpin yang siap meneruskan estafet perjalanan dari suatu rumah tanpa dinding ini.
Bukan hanya tentang berkumpul, ngopi, bermain, lalu pulang membawa foto, vidio tiktok bahkan membawa sticker foto untuk dijadikan kenangan di dalam grup WhatsApp . Tetapi tentang bagaimana sekumpulan orang yang sebelumnya tidak saling mengenal, akhirnya dipertemukan oleh takdir dalam satu rumah yang sama. Rumah yang tidak dibangun oleh dinding dan pondasi, melainkan oleh rasa peduli, rasa memiliki, dan keinginan untuk saling menjaga. Bukan hanya cinta yang dijaga dan dipertahankan dari orang-orang yang ingin merusak makna cinta tersebut, melainkan orang yang bisa memahami dan mengobati dari luka masalalunya. Ini bukan soal asmara yang bisa kandas di tengah jalan tanpa ingin diperbaiki lagi, tapi ini soal kesetiaan yang akan diabadikan di dalam tinta hitam, oleh penulis yang sedang menghisap sebatang rokok G3B87 nya. Jangan melihat merk dari rokok tersebut, tapi lihatlah orang yang menuangkan isi pikirannya untuk kalian yang bisa memahami arti keikhlasan. Ikhlas bukan berarti melepaskan apa yang kita cintai, tapi itu bentuk pengorbanan yang kita relakan, demi mendapatkan kebahagiaan yang abadi
Bertempat di Villa Kayu, Panggulan, Sawangan, Depok, Jawabarat tempat itu menjadi saksi bahwa setiap pertemuan selalu memiliki makna untuk diabadikan. Menjadi saksi lahirnya cerita-cerita sederhana yang suatu hari nanti akan dirindukan. Tentang malam yang dipenuhi suara tawa, obrolan panjang yang terasa singkat, lelah yang berubah menjadi kebahagiaan, hingga momen ketika seseorang merasa bahwa ternyata dirinya tidak lagi berjalan sendirian. Pergi keluar membeli sebuah makanan bersama orang yang diidamkannya, berangkat dengan motor kesayangan yang dibalut warna hitam, itu menjadi sebuah moment yang akan selalu diingat dan dikenang oleh seseorang yang melakukannya. Menunggu lama dan mengharapkan makanan tersebut datang dengan cepat, itu adalah moment yang paling menyebalkan untuk kita yang sedang bercerita dan bermain kartu AS bersama, mungkin yang dibilang oleh seseorang itu memang benar adanya, bahwasanya kita jangan pernah berharap lebih kepada manusia, seringkali mereka terlena dengan keadaan yang telah di milikinya, sampai lupa itu hanya kebahagiaan yang tidak pernah abadi.
Dari berbagai latar belakang, organisasi, dan daerah yang berbeda, kita dipertemukan di dalam satu wadah yang bernama KMIK Jakarta. Organisasi kedaerahan yang bukan hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga tempat pulang bagi mereka yang sedang berjuang di perantauan jakarta. Tempat di mana setiap orang diterima tanpa melihat masalalunya. Tempat di mana kita belajar bahwa keluarga ternyata tidak selalu lahir karena hubungan darah, tetapi juga karena rasa yang tumbuh dari kebersamaan. Ada yang lupa menaruh barang sampai orang tersebut kebingungan dimana meletakkannya, lalu datanglah senja yang menenangkan pikiran dan isi hatinya, perlahan mulai tenang pikirannya dengan kehadiran sosok senja tersebut, kemudian mereka semakin merasakan kenyamanan satu sama lain, tapi ceritanya tidak pernah tertulis diatas kertas, karena terhalang oleh lembaran-lembaran tebal diatasnya.
Di sinilah kita dipertemukan dengan orang-orang hebat. Orang-orang yang diam-diam sedang berjuang dengan mimpinya masing-masing. Ada yang menahan rindu kepada rumah, ada yang sedang bertahan demi masa depan, ada yang menyimpan lelah di balik senyuman, dan ada pula yang perlahan belajar percaya bahwa dirinya mampu melewati semuanya. Namun di KMIK Jakarta, semua perjuangan itu terasa lebih ringan karena dijalani bersama. Disaat orang-orang terlelap dengan tidurnya, ada seseorang yang selalu berusaha kuat ditempat yang penuh bahan makanan, dia yang memberikan ketenangan tanpa adanya rasa khawatir untuk asupan tubuh kita bersama. Menunya memang sederhana, tapi rasanya sangat membahana. Bukan dilihat dari seberapa mewah yang disajikannya, tapi lihatlah orang yang menyimpan banyak luka namun selalu menguatkan untuk dirinya sendiri, agar tidak terlihat lemah dihadapan banyak orang. Pagi yang cerah menjadi waktu yang sangat menyenangkan untuk mengenang masa kecil dengan bermain ayunan di halaman villa tersebut. Setiap ayunan yang dikayuhkan ada tawa yang keluar di dalam dirinya, mungkin itu suatu hiburan yang sederhana, tapi bisa melepaskan sementara apa yang ada dipikirannya.
Kita saling menguatkan ketika salah satu merasa lemah. Saling mengingatkan ketika mulai kehilangan arah. Saling merangkul ketika dunia terasa terlalu keras. Dan tanpa disadari, kebersamaan kecil yang tercipta selama MAKERTA itu perlahan menumbuhkan sesuatu yang lebih besar, rasa peduli, rasa memiliki, serta keinginan untuk tetap berada di dalam rumah tanpa dinding ini. Bermain bersama di dalam sebuah games itu sungguh menyenangkan sekali, rasa peduli satu sama lain itu mulai tumbuh ketika semuanya melingkar, merangkul bahu temannya, menyalakan smoke boom, lalu mulai menyanyikan hymne KMIK Jakarta dengan sama-sama. Setiap lantunannya memiliki makna yg sangat dalam, orang yang menyanyikannya bahkan terbawa kedalam sungai yg mengalir deras sampai titik temunya. Jalinan Cinta dan Ukhuwah, Bahu Membahu melangkah bersama, satu dalam KMIK Jaya. Sekilas tetang lirik yang ada di dalam hymne KMIK Jakarta.
Mungkin beberapa tahun lagi, ketika waktu membuat kita sibuk dengan kehidupan masing-masing, momen ini akan menjadi salah satu hal yang paling dirindukan. Tentang bagaimana sederhana nya kebersamaan saat itu mampu menghadirkan kebahagiaan yang tulus. Tentang bagaimana seseorang pernah merasa begitu diterima hanya karena berada di tengah orang-orang yang tepat. Menjadi awal pertemuan antara guru dengan para muridnya di pondok pesantren yang penuh makna dan cinta itu. Para muridnya disambut dengan baik, disiapkan jamuan yang penuh hangat serta ketulusan dengan memberikan pengetahuan tentang kepemimpinan kepada muridnya yang belum mengetahui apa itu kepemimpinan. Pun guru menerangkan bahwa gaya kepemimpinan itu ada tiga pilar;Demokratis, Otoriter, dan Transformasi. Dengan penyampaain yang begitu bagus dan jelas, kita semua yang ada di dalam forum tersebut ikut terbawa suasana, seolah kita sedang memimpin suatu organisasi/perusahaan.
Karena pada akhirnya, yang paling membekas dari sebuah pertemuan bukanlah seberapa mewah acaranya, melainkan siapa saja yang hadir di dalam ceritanya. Dan MAKERTA 2025 dengan mengangkat tema “Menjalin persaudaran, Menguatkan kebersamaan bersama KMIK Jakarta” telah menjadi bagian dari cerita itu.
Cerita tentang acara yang menghadirkan suasana kebersamaan untuk terus melangkah maju di dalam rumah kedua yang dibangun tanpa dinding dan pondasi, melainkan dengan rasa peduli, kebersamaan, serta keikhlasan dalam melanjutkan perjalanan ini... Tentang langkah-langkah kecil anak daerah yang sedang belajar menjadi besar. Serta tentang hati yang pernah dipertemukan walau tak dipersatukan. Ada yang sampai pelaminan, ada yang sampai saat ini masih menjalin hubungan namun ada juga yang hanya saling meninggalkan jejak untuk dikenang seumur hidup. Tulisan ini mungkin tidak masuk kriteria dalam publikasi pada umumnya, tapi yang membaca tulisan ini mugia diberikan kesadaran dan keikhlasan dalam melanjutkan kembali perjalanan rumah tanpa dinding ini. Penulis yang tidak mau memberikan namanya tapi ditangannya selalu ada roko G3B87, sehingga dapat menuangkan apa yang ada di dalam pikiranya.